Sunan Ampel

Biografi Sunan Ampel

Di Rusia selatan ada sebuah daerah yang disebut Bukhara. Bukhara ini terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah yang disebut Bukhara. Bukhara ini terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang menelorkan ulama-ulama besar seperti sarjana hadist terkenal yaitu Imam Bukhari yang mashur sebagai perawi hadits sahih.

Di Samarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermahzab Syafi’i, beliau mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan Samarqandi. Orang jawa sangat  sukar  mengucapkan  Samarqandi  maka  mereka  hanya  menyebutkan  sebagai  Syekh Ibrahim Asmarakandi.

Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra untuk  berda’wah  ke  negara-negara  Asia.  Perintah  ini  dilaksanakan,  dan  beliau  kemudian diambil menantu oleh raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan. Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan maka Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putra yaitu Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah dan raden Santri atau Sayyid Alim Murtolo.

Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian Raden Rahmat itu keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negeri Cempa yang wajahnya tidak kalah menarik dengan Dewi Sari.

Sehingga istri-istri lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara.

Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian, seorang putri Cina yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.

Ketika Dewi Kian di ceraikan dan diberikan kepada Ario Damar saat itu sedang hamil tiga bulan. Ario Damar tidak diperkenankan menggauli putri Cina itu sampai si jabang bayi terlahir ke dunia.

Bayi dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan atau lebih terkenal dengan nama Raden Patah, salah seorang murid Sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.

Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara, dan para adipati banyak yang tak loyal lagi kepada Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertabhumi. Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke istana Majapahit.

Lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam itu diteruskan negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya.

Ratu Dwarawati, yaitu istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri ia mengajukan pendapat kepada suaminya.

“Kanda Prabu, agaknya para ponggawa dan rakyat Majapahit sudah tidak takut lagi kepada Sang Hyang Widhi.  Mereka  tidak segan dan tidak  merasa malu melakukan tindakan yang tidak terpuji, pesta pora, foya-foya, mabuk dan judi sudah menjadi kebiasaan mereka bahkan para

pangeran  dan  kaum  bangsawan  sudah  mulai  ikut-ikutan.  Sungguh  berbahaya  bila  hal  ini dibiarkan berlarut-larut. Negara bisa rusak karenanya.”

“Ya, hal itulah yang membuatku risau selama ini,” sahut Prabu Brawijaya.

“Lalu apa tindakan Kanda Prabu ?”

“Aku masih bingung,” kata sang Prabu. “Sudah kuusahakan menambah bikhu dan brahmana untuk  mendidik  dan  memperingatkan  mereka  tapi  kelakuan  mereka  masih  tetap  seperti semula, bahkan guru-guru agama Hindu dan Budha itu dianggap sepele.”

“Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerosotan budi pekerti,” kata ratu Dwarawati.

“Betulkah ?” tanya sang Prabu.

“Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.”

“Tentu saja aku akan merasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia mengirimkan Sayyid
Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.” Kata Raja Brawijaya.

Maka pada suatu hari diberangkatkanlah utusan dari Majapahit ke negeri Cempa untuk meminta
Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit.

Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh raja Cempa, dan raja Cempa tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman. Keberangkatan Sayyid Ali Rahmat ke Tanah Jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakaknya. Sebagaimana disebutkan di atas, ayah Sayyid Ali Rahmat adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho.

Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di Tuban. Tetapi di Tuban, tepatnya di desa Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau dimakamkan didesa tersebut yang masih termasuk ke camatan Palang kabupaten Tuban.

Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan, beliau berda’wah keliling ke daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Disana beliau mendapat sambutan raja Pandita Bima, dan akhirnya berda’wah di Gresik mendapat sebutan Raden Santri, beliau wafat dan dimakamkan di Gresik. Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.

“Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti mulia ?” tanya sang Prabu. Dengan sikapnya yang sopan tutur kata halus Sayyid Ali Rahmatullah menjawab. “Dengan senang hati Gusti Prabu, saya akan berusaha sekuat-kuatnya untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka.

“Bagus !” sahut sang Prabu. “Bila demikian kau akan kuberi hadiah sebidang tanah berikut bangunannya di Surabaya. Di sanalah kau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia.”

“Terima kasih saya haturkan Gusti Prabu,” jawab Sayyid Ali Rahmatullah.

Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Candrawati. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmatullah adalah salah seorang Pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu raja Majapahit. Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan Sayyid Ali Rahmatullah ke sebuah daerah di Surabaya yang disebut sebagai Ampeldenta.

Selama dalam perjalanan banyak hal-hal aneh di jumpai rombongan itu. Diantaranya adalah pertemuan Sayyid Ali Rahmatullah dengan seorang gadis bernama Siti Karimah yang kemudian menjadi isterinya. Dan sepanjang perjalanan itu beliau juga melakukan da’wah sehingga bertambahlah anggota rombongan yang mengikuti perjalanannya ke Ampeldenta. Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu Raja Brawijaya maka beliau adalah anggota keluarga kerajaan Majapahit atau salah seorang pangeran, para pangeran pada jaman dulu di tandai dengan nama depan Raden. Selanjutnya beliau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat. Dan karena beliau menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel.

Sunan artinya yang di junjung tinggi atau panutan masyarakat setempat. Langkah pertama yang dilakukan  Raden  Rachmat  di  Ampeldenta  adalah  membangun  masjid  sebagaimana  yang dilakukan oleh  Nabi  sewaktu  hijrah ke  Madinah. Selanjutnya  beliau mendirikan  pesantren tempat mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kapada beliau.

Hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah Mo Limo atau tidak mau melakukan lima hal tercela  yaitu:  main  judi,  minum  arak  atau  bermabuk-mabukkan,  mencuri,  madat  atau menghisap madu dan madon atau main perempuan yang bukan isterinya.

Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama Islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia, maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam maka Prabu Brawijaya tidak menjadi marah, hanya saja ketika dia diajak untuk memeluk agama Islam ia tidak mau.

Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya bahkan diseluruh Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh dipaksa, Raden Rahmatpun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Wali Songo, sebagai Mufti atau pemimpin agama Islam se Tanah Jawa. Beberapa murid dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi anggota Wali Songo, mereka adalah Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah putra Sunan Ampel sendiri.

Jasa beliau yang besar adalah pencetus dan perencana lahirnya kerajaan Islam dengan rajanya yang pertama yaitu Raden Patah, murid dan menantunya sendiri. Beliau juga turut membantu mendirikan Masjid Agung Demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Salah satu diantara empat tiang utama masjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Sunan Ampel.

Sikap Sunan Ampel terhadap adapt istiadat lama sangat hati-hati, hal ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajad. Seperti yang pernah tersebut dalam permusyawaratan para Wali di masjid Agung Demak.

Pada waktu itu Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut bertanyalah Sunan Ampel :


“Apakah tidak mengkwatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah ?”

Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.”

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang Jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua Wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolelir Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekwen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat ummat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah.

Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila Sunan Ampel mendapat beberapa putra di antaranya :

1.  Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
2.  Raden Qosim atau Sunan Drajad.
3.  Maulana Akhmad atau Sunan Lamongan.
4.  Siti Mutmainah
5.  Siti Alwiyah
6.  Siti Asikah yang diperistri Raden Patah.

Adapun dari perkawinannya dengan Nyai Karimah putri Ki Wiryosaroyo beliau dikaruniai dua orang putri yaitu :

1.  Dewi Murtasia yang diperistri Sunan Giri.
2.  Dewi Mursimah yang diperistri Sunan Kalijaga.

Kehebatan para Wali tersebut memang mengagumkan, sebagai bukti adalah kesiapan mereka dalam menerima adanya perbedaan pendapat. Dalam hal adat istiadat rakyat Jawa sudah jelas Sunan Ampel berbeda pendapat dengan Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Tetapi mereka tetap bisa hidup rukun damai tanpa terjadi percekcokan yang menjurus pada pertikaian. Bahkan  Sunan  Kalijaga  yang  terkenal sebagai  pelopor penjaga  aliran  lama  itu menjadi menantu Sunan Ampel.

Putra Sunan Ampel sendiri yaitu Sunan Bonang adalah pendukung pendapat Sunan Kalijaga. Sunan  Drajad  atau  Raden  Qosim  yang  juga  putra  Sunan  Ampel  pada  akhirnya  juga memanfaatkan gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk mendekati rakyat Jawa agar mau menerima Islam. Itulah jiwa besar yang dimiliki para Wali. Saling menghargai medan perjuangan masing-masing anggotanya.

Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel. Setiap hari banyak orang yang berziarah ke makam beliau bahkan pada malam harinya juga.

Semoga Allah manaikkan beliau ke derajat yang tinggi, drajad para auliya muqorrobin dan meridhai segala amal beliau.

*****
sumber:www.dimhad.6te.net

Sunan Giri

Sunan Giri

1. Syeh Wali Lanang

Di Awal abad 14 M. Kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Menak Sembuyu. Salah sorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agama Hindu dan ada sebagaian yang memeluk agama Budha.

Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya, pasalnya putri mereka satu-satunya telah jatuh sakit selama beberapa bulan. Sudah diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang putri belum sembuh juga.

Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda pegebluk atau wabah penyakit. Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad Tanah Jawa esok sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka cita, dan hampir semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.

Sang Prabu hampir putus asa penyakit yang diderita putrinya. Dewi Sekardadu hanya terbaring di kamarnya, makin hari tubuhnya makin susut, tinggal kulit pembalut tulang. Tanda putri itu masih hidup hanyalah adanya nafas lemah yang masih keluar masuk dari hidungnya. Sepasang matanya tetap terpejam dan wajahnya pucat pasi, hampir seperti mayat.

“Kanda Prabu ……” ujar permaisuri. “Apakah Kanda tega membiarkan anak kita satu-satunya ini terus dalam keadaan begini ?”

“Apa maksudmu Dinda ?” sahut Prabu Menak Sembuyu. “Bukankah aku sudah berusaha mendatangkan semua ahli pengobatan di negeri ini. Bahkan belum lama berselang telah mendatangkan tabib terkenal dari Pulau Dewata. Kurangkah usahaku itu?”

“Bukan, bukan begitu maksudku Kanda ......”

“Lalu apa maumu ?”

“Buatlah sayembara,” kata permaisuri. “Siapa yang dapat menyembuhkan putri kita akan kita beri hadiah, kalau perlu kita ambil sebagai menantu.”

Prabu Menak Sembuyu terdiam beberapa saat. Pada akhirnya dia setuju atas saran istrinya. Segera dia perintahkan mahapatih kerajaan Blambangan yaitu Patih Bayul Sengara untuk mengumumkan bahwa siapa yang dapat menyembuhkan penyakit putrid Dewi Sekardadu akan dijodohkan dengan putrinya itu. Dan siapa dapat mengusir wabah penyakit dari Blambangan maka akan diberi separo dari wilayah kerajaan Blambangan.

Sayembara disebar di hampir pelosok negeri. Sehari, dua hari, seminggu bahkan berbulan-bulan kemudian tak ada seorangpun yang menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti sayembara itu.

Permaisuri makin sedih hatinya. Prabu Menak Sembuyu berusaha menghibur istrinya dengan menugaskan  Patih  Bayul  Sengara  untuk  mencari  pertapa  sakti  guna  mengobati  penyakit putrinya.

Diiringi beberapa prajurit pilihan, Patih Bayul Sengara berangkat melaksanakan tugasnya. Para pertapa biasanya tinggal di puncak atau lereng-lereng gunung, maka kesanalah Patih Bayul Sengara mengajak pengikutnya mencari orang-orang sakti.

Berhari-hari mereka menempuh perjalanan, masuk hutan keluar hutan, naik dan turun gunung. Pada suatu ketika mereka bertemu dengan seorang Resi bernama Kandabaya.

Untuk membuktikan bahwa Resi Kandabaya itu memang sakti, maka sengaja sang patih memerintahkan para prajuritnya menyerang dan mengeroyok Sang Resi dengan senjata terhunus.

Sepuluh orang maju serentak menyerangsang Resi yang sedang duduk terpekur dalam semedi. Resi itu seperti tak menghiraukan adanya bahaya yang mengancam dirinya. Sepasang matanya masih terpejam. Tapi begitu sepuluh orang itu mendekat kearahnya dalam jarak dua langkah tubuh mereka tiba-tiba terpental sejauh sepuluh tombak, tubuh mereka terjerembab ke tanah, senjata mereka terlepas dari tangan dan mereka meringis kesakitan tanpa dapat bergerak untuk bangub lagi.

Patih Bajul sengara kaget mengetahui hal itu. Tapi dia masih penasaran. Diam-diam dia mencabut kerisnya. Sang Resi masih duduk bersila, sepasang matanya masih terpejam, Seperti tak terusik oleh prilaku Patih Bajul Sengara dan anak buahnya.

“Ssssst !” tiba-tiba Patih Bajul Sengara melempar kerisnya. Tepat kearah jantung sang Resi. Bukan sekedar lemparan biasa, melainkan lemparan seorang Mahapatih kerajaan Blambangan yang tentu juga memiliki kesaktian tinggi. Dan memang, lemparan keris itu disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.

Ujung keris itu meleset ke arah sang Resi, hampir saja menyentuh dada Sang Resi. Namun tiba- tiba keris itu membalik, melesat ke arah Patih Bajul Sengara. Patih Bajul Sengara melengak, secepat  kilat  dia  merundukkan  badan.  Keris  itu  melesat  di  atas  tubuhnya.  Menghantam sebatang pohon sawo.

“Jresss !” keris itu terbenam ke batang pohon sawo yang cukup besar, tinggal gagangnya saja yang tampak. Patih Bajul Sengara hampik tak berkedip menyaksikan gagang kerisnya itu.

Belum lagi hilang rasa terkejutnya Sang Patih, dilihatnya batang pohon sawo itu mengeluarkan asap dan kulit pohon itu menjadi hitam. Tak lama kemudian buah dan pohon sawo itu rontok, berguguran ke tanah.

Serta merta Patih Bajul Sengara menjatuhkan diri, berlutut didepan sang Resi. Resi Kandabaya masih dalam sikap semula. Duduk bersila dengan mata terpejam. Seperti tak pernah terjadi suatu apa.

“Ampun …… ampunilah kekurangajaran hamba,” ujar Patih Bajul Sengara dengan terbata-bata.

Tak ada reaksi dari sang Resi.

Tiba-tiba  ada  seekor  merpati  putih  hinggap  di  depan  sang  Resi.  Merpati  itu  meletakkan selembar daun lontar yang dijepit di paruhnya. Dan sesaat kemudian merpati itu mengeluarkan bunyi.  (mbekur  istilah  Jawanya).  Aneh,  sang  Resi  kemudian  membuka  sepasang  matanya setelah mendengar suara si merpati. Sang Resi tersenyum dan segera mengelus-elus sayap merpati.

“Terima  kasih  Pethak  ………”  ujar  sang  Resi.”  Sekarang  kau  boleh  bermain-main  atau beristirahat sesukamu.”

Merpati itu mengangguk-anggukkan kepala, seolah mengerti apa yang diucapkan sang Resi. Kemudian dia mengepakkan sayapnya, terbang ke sebuah pohon kenari tak jauh dari Padepokan Resi Kandabaya.

Sang Resi segera mengambil daun lontar yang diletakkan merpati tadi. Dia seperti tak menghiraukan adanya Patih Bajul Sangara yang membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai Padepokan.

“Ampun ......... ampunilah kekurangajaran dan kelancangan hamba menganggu ketenangan
Bapa Resi ......... “ Demikian ucap Patih Bajul Sengara.

Resi Kandabaya masih tak menghiraukan sang patih. Dia sedang asyik membaca gurat-gurat berbentuk tulisan di daun lontar yang dipegangnya. Sesudah membaca tulisan didaun lontar, sang Resi bangkit berdiri. Berjalan kearah sepuluh prajurit yang menggeletak kesakitan tanpa dapat bergerak. Hanya dengan beberapa kali tepukan pada bagian-bagian tertentu di tubuh para prajurit itu maka kesepuluh anak buah Patih Bajul Sengara dapat bergerak lagi dan rasa sakit di sekujur tubuh mereka telah hilang. Serta merta sepuluh orang itu menjatuhkan diri berlutut didepan sang Resi.

Tapi Resi itu tidak menghiraukan mereka lagi. Dia berjalan kearah Padepokan tempatnya bersemedi tadi. Tapi kali ini dia tidak duduk bersemedi melainkan tegak didepan Patih Bajul Sengara.

Memang hebat dan sopan caramu bertamu kemari hai Patih Bajul Sengara !” tegur sang Resi.

“Ampun bapa Resi ......... hamba harus yakin bahwa orang yang hendak mintai pertolongan memang benar-benar mumpuni.” ujar Patih Bajul Sengara.

“Ya, aku sudah tahu hal itu,” tukas sang resi. “Kau hendak memintaku mengobati penyakit sang putri Dewi Sekardadu dan mengusir wabah pagebluk dari Blambangan atas perintah Prabu Menak Sembuyu!”

“Mohon ampun Bapa Resi, memang demikianlah adanya kedatangan hamba kemari.”

“Tapi kau salah alamat Patih ! Wabah penyakit itu sudah dikehendaki Dewata Agung. Aku tak mampu mengusirnya, juga tak mampu menyembuhkan Dewi Sekardadu.

“Tapi ……… hamba mohon petunjuk ……… “ kata Patih Bajul Sengara, dia tidak akan menyia- nyiakan kesempatan yang ada. Mumpung bisa bertemu dengan tokoh seperti Resi Kandabaya dia harus memperoleh hasil, setidak-tidaknya dia harus mendapatkan keterangan bagaimana cara mengobati atau mendapatkan orang yang mampu mengobati Dewi Sekardadu.

Resi Kandabaya seperti mengerti apa yang tersirat di hati Patih Bajul Sengara. Sesudah menarik nafas panjang karena kesal melihat sikap sang Patih diapun berkata, “Baiklah Patih, aku akan memberimu  petunjuk.  Pada  saat  itu  hanya  ada  satu  orang  yang  mampu  menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu sekaligus mengusir wabah penyakit dari seluruh wilayah Blambangan. Tapi ……”,

Resi Kandabaya tidak meneruskan ucapannya. Ditatapnya tajam-tajam wajah Patih Bajul Sengara. Sang Patih makin menundukkan mukanya, tak ada keberanian baginya untuk bertatap muka dengan Resi yang terbukti sangat sakti itu. “Apapun yang terjadi, hamba ……… juga Gusti Prabu Menak Sembayu takkan peduli asal Dewi Sekardadu sembuh dari sakitnya.” ujar Patih Bajul Sengara untuk menghapus keraguan Resi Kandabaya.

“Benarkah? Tapi aku tidak yakin,” sahut sang Resi.” Akan terjadi sesuatu di luar perhitunganmu dan hal itu akan membakar hatimu. Tapi baiklah, kalau kau ingin mengetahui orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu. Ikutilah merpati putih itu terbang.

Tapi kuperingatkan, jangan kau mencoba bersikap kurang ajar kepada orang yang hendak menyembuhkan Dewi Sekardadu itu. Dan apapun syaratnya yang diajukannya hendaknyan kau dan Prabu Menak Sembuyu meluluskannya.”

“Segala pesan Bapa Resi akan hamba perhatikan baik-baik.”

Sekarang  sudah  hampir  malam,  beristirahatlah  di  Padepokan ini.  Besok  pagi  kalian  boleh berangkat  menuju  gunung  Selangu.  Merpati  putih  akan  mengantarmu  hingga  ke  tempat tujuan.”

Demikianlah, Patih Bajul Sengara dan anak buahnya malam itu bermalam di Padepokan Resi
Kandabaya. Esok harinya mereka sudah bersiap-siap berangkat kegunung Selangu.

“Sampaikan salam perdamaian kepada pertapa di gunung Selangu itu.” Pesan Resi Kandabaya sebelum Patih Bajul Sengara meninggalkan Padepokan.



“Pesan Bapa Resi akan hamba sampaikan,” jawab Patih Bajul Sengara penuh hormat.

Perjalanan ke gunung Selangu memakan waktu yang cukup lama. Walau mereka naik kuda pilihan  tapi  pada  tengah  hari  barulah  mereka  sampai  di  gunung  Selangu.  Mereka  terus mengikuti arah merpati putih terbang menuju suatu tempat. Ketika jalanan semakin naik, maka mereka menambatkan kudanya dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Akhirnya merpati penunjuk jalan itu berhenti didepan sebuah goa. Saat itu hari mulai gelap. Tapi ada suatu keanehan, dari dalam goa itu memancar sinar terang, sebuah cahaya yang mampu menerangi tempat sekitarnya .

Patih Bajul Sengara memerintahkan para prajurit pengiring untuk menunggu di luar goa. Dia sendiri segera berjalan memasuki goa itu. Makin ke dalam makin terang cahaya yang memancar itu.

Akhirnya sepasang mata Patih Bajul Sengara terbelalak heran, ternyata cahaya itu bukan berasal dari sebuah lampu atau benda melainkan berasal dari tubuh seorang berjubah putih yang sedang bersujud di tanah. Seluruh tubuh dan pakaian orang itu mengeluarkan cahaya terang benderang. Ingat pesan Resi Kandabaya maka Patih Bajul Sengara tidak berbuat macam- macam yang justru akan membahayakan dirinya sendiri. Dengan bersabar dia menunggu orang itu bersujud kemudian duduk bertafakkur. Setelah selesai barulah Patih Bajul Sengara menyapanya.

“Saya Patih Bajul Sengara, datang kemari dengan membawa pesan alam perdamaian dari Resi
Kandabaya,” ujar sang Patih.

Aku terima salam Resi Kandabaya,” ujar pertapa itu. “Sudah lama aku bersahabat dengan Resi
Kandabaya walaupun hanya melalui selembar daun lontar yang diantar oleh merpati sang Resi.”

Patih Bajul Sengara lalu mengutarakan maksud kedatangannya menemui sang pertapa. Pertapa itu  mengangguk  –anggukkan  kepala  mendengar  penjelasan  sang  Patih.  “Sebelum  aku menyatakan kesanggupanku terlebih dahulu kuperkenalkan diriku ini, “kata pertapa itu. “Namaku Maulana Ishak, berasal dari negeri Pasai. Aku bersedia mengobati Dewi Sekardadu dan sekaligus  mengusir  wabah  penyakit  dari  Blambangan  dengan  syarat  bahwa  Prabu  Menak Sembuyu dan keluarganya masuk agama Islam. Dan rakyat Blambangan bersedia mendengar nasehatku.”



Barangkali inilah hal-hal yang termasuk di luar perhitunganku, demikian bisik hati sang Patih. Soal pindah agama dia tidak berani memberi keputusan. Untuk itu dia harus menghadap sang Prabu lebih dahulu. Maka diapun berpamit kepada Syekh Maulana Ishak untuk pulang ke istana Blambangan, menyampaikan persyaratan yang diajukan pertapa itu.

“Ya, ada baiknya anda berunding dengan Prabu Menak Sembuyu lebih dahulu,” kata Syekh
Maulana Ishak.

Terpaksa Patih Bajul Sengara kembali ke Blambangan dan menyampaikan persyaratan yang diajukan Syekh Maulana Ishak kepada Prabu Menak Sembuyu.

Tentu saja sangat berat bagi sang Prabu untuk melepaskan agama lama yang terlanjur diyakini selama bertahun-tahun, namun demi rasa kasih sayangnya pada Dewi Sekardadu, maka dia terpaksa  memenuhi  syarat  yang  diajukan  Syekh  Maulana  Ishak.  Patih  Bajul  Sengara diperintahkan menjemput Syekh Maulana Ishak. Sesampainya di goa gunung Selangu, Patih Bajul Sengara dipersilahkan berangkat ke Blambangan lebih dahulu. Syekh Maulana Ishak akan menyusul kemudian.

Tetapi betapa terkejut Patih Bajul Sengara ketika sampai di istana Blambangan. Ternyata Syekh Maulana Ishak sudah datang lebih dahulu. Bahkan sang Prabu Menak Sembuyu menegur keterlambatan sang Patih.

Sadarlah sang Patih, bahwa Syekh Maulana Ishak itu benar-benar pertapa sakti yang mumpuni. Dia yang menempuh perjalanan naik kuda masih dikalahkan dengan Syekh Maulana Ishak yang datang ke istana Blambangan hanya berjalan kaki.

Tiga malam Syekh  Maulana Ishak melakukan tirakat untuk mengobati Dewi Sekardadu. Di malam keempat, sesudah melaksanakan shalat sunnah hajat ditiupkan wajah sang putri tiga kali.  Seketika  sang  putri  membuka matanya  dan bangkit  dari  tidurnya.  Seluruh  isi istana gembira menyaksikan hal itu terlebih permaisuri dan Prabu Menak Sembuyu.

Prabu Menak Sembuyu menepati janjinya. Syekh Maulana Ishak diambil menantu. Dijodohkan dengan Dewi Sekardadu. Sambil menunggu keadaan tubuh Dewi Sekardadu supaya benar-benar pulih seperti sedia kala, Syekh Maulana Ishak berkeliling ke seluruh negeri Blambangan untuk memberikan nasehat dan memudarkan pengaruh pagebluk yang melanda rakyat Blambangan.



Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Maulana Ishak akhirnya diketahui bahwa rakyat Blambangan sangat ceroboh dalam menjaga kebersihan dan kesehatan mereka. Makanan sehari- hari mereka banyak yang mengandung racun dan penyakit, cara mereka buang hajat disembarang tempat dan mereka jarang mandi atau membersihkan tubuh mereka.

Setelah Maulana Ishak memberikan penyuluhan merawat kesehatan dan membersihkan diri serta lingkungan tempat tinggal. Dan nasehat itu dilaksanakan maka banyaklah rakyat Blambangan yang sembuh dari sakitnya.

Hanya beberapa orang yang penyakitnya tergolong berat terpaksa mendapat perawatan khusus dari Syekh Maulana Ishak. Dan semuanya berhasil disembuhkan seperti sedia kala.

Tibalah pada hari yang ditentukan, pernikahan Dewi Sekardadu dan Syekh Maulana Ishak dilaksanakan. Upacara diselenggarakan dengan penuh meriah. Karena Syekh Maulana Ishak bukan hanya berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu melainkan juga mengusir wabah penyakit dari Blambangan maka dia juga diangkat sebagai raja muda atau Adipati. Mendapat kekuasaan separo dari wilayah kerajaan Blambangan, sesuai dengan janji yang diucapkan oleh Prabu Menak Sembuyu sendiri.

Menurut Babad Tanah Jawi, dalam upacara pernikahan yang diselenggarakan itu sudah terjadi ketegangan antara Syekh Maulana Ishak dengan pihak keluarga kerajaan. Yaitu disaat jamuan makan  dikeluarkan.  Ternyata  makanan  yang  dihidangkan  kepada  Syekh  Mulana  Ishak kebanyakan adalah terdiri dari daging binatang haram, seperti babi hutan, harimau, ular, kera dan lain-lain.

Posisi Syekh Mulana Ishak pada saat itu sungguh sulit sekali. Kalau dia tidak mau menyantap hidangan itu nantinya disangka bersikap sombong dan menghina Prabu Menak Sembuyu. Jika disantap dagingnya terdiri dari hewan yang diharamkan agama Islam, maka diapun berdoá kepada Allah, memohon jalan keluar yang terbaik.

Sesuai berdoá terjadilah sesuatu diluar dugaan. Daging-daging binatang haram yang sudah dimasak itu tiba-tiba berubah menjadi binatang hidup berloncatan kesana–kemari. Yang asalnya dari ular menjadi ular, yang berasal dari harimau menjadi harimau, yang asalnya babi hutan menjadi babi hutan. Tentu saja suasana menjadi panik. Pesta meriah geger, Syekh Maulana Ishak mengajak isterinya pulang di Kadipaten baru yang harus diperintahnya.

Syekh Maulana Ishak hidup berbahagia bersama istrinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena sejak terjadinya keributan pada jamuan makan itu Patih Bajul Sengara meniupkan isyu jahat kepada Prabu Menak Sembuyu.

Menurut Patih Bajul Sengara, Syekh Maulana Ishak sengaja mempermalukan sang Prabu dengan menghidupkan binatang yang sudah dimasak dan siap dimakan para peserta pesta. Bukan hanya itu saja, keberhasilan Syekh Maulana Ishak berdakwa mengajak rakyat Blambangan masuk Islam dianggap membahayakan kedudukan Prabu Menak Sembuyu selaku penguasa tunggal kerajaan Blambangan. Karena semakin hari semakin banyak pengikut Syekh Maulana Ishak yang masuk Islam. Bahkan tidak sedikit rakyat di wilayah kekuasaan istana Blambangan pindah menjadi penduduk Kadipaten yang dipimpin oleh Syekh Maulana Ishak.

Lama-lama Syekh Maulana Ishak merebut kerajaan Blambangan ini dari tangan Gusti Prabu, demikian hasut Patih Bayul Sengara. “Ya, tidak mustahil dia akan berontak dan memaksa kita benar-benar menjadi pengikutnya. Memang sejauh ini dia tidak tahu bahwa kita pura-pura saja masuk Islam. Tapi pada akhirnya dia pasti mengetahuinya.

Prabu  Menak  Sembuyu  memang  hanya  pura-pura  masuk  agama  Islam  demi  kesembuhan putrinya. Kini setelah termakan oleh hasutan Patih Bajul Sengara dia mulai menaruh kebencian kepada menantunya itu.

Tujuh bulan sudah Syekh Maulana Ishak menjadi adipati baru di Blambangan.

Makin hari semakin bertambah banyak saja pengikutnya. Hati Prabu Menak Sembuyu makin panas mengetahui hal ini. Sementara Patih Bajul Sengara tak henti-hentinya mempengaruhi sang Prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya.

Patih Bajul Sengara sendiri tanpa sepengetahuan sang Prabu sudah mengadakan terror pada pengikut Syekh Maulana Ishak. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang dipimpin Syekh Maulana Ishak di culik disiksa dan dipaksa kembali kepada agama lama. Walau kegiatan itu dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi pada akhirnya Syekh Maulana Ishak mengetahui juga.

Pada saat itu Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan. Syekh Maulana Ishak sadar, bila hal itu diteruskan akan terjadi pertumpahan darah yang seharusnya tidak perlu. Kasihan rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka dia segera berpamit kepada istrinya untuk meninggalkan Blambangan.

“Sungguh tidak pantas seorang anak menantu berperang melawan mertuanya. Lebih tidak tega lagi hatiku bila melihat rakyat yang tak berdosa, sama-sama sewilayah Blambangan harus berperang habis-habisan. Yang diinginkan Rama Prabu adalah diriku, maka relakanlah daku pergi kembali ke Pasai. Bila anak kita lahir laki-laki berilah nama Raden Paku, jika lahir perempuan terserah adinda menamakannya.

Demikianlah, pada tengah malam, dengan hati berat karena harus meninggalkan istri tercinta yang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak berangkat meninggalkan Blambangan seorang diri.

Esok  harinya  sepasukan  besar  prajurit  Blambangan  yang  dipimpin  Patih  Bajul  Sengara menerobos masuk wilayah Kadipaten yang sudah ditinggalkan Syekh Maulana Ishak. Tentu saja Patih kecele, walaupun seluruh isi istana di obrak-abrik dia tidak menemukan Syekh Maulana Ishak yang sangat dibencinya.

Sang Patih hanya dapat memboyong Dewi Sekardadu untuk pulang ke istana Blambangan. Seluruh pengikut Syekh Maulana Ishak sudah diperintah Dewi Sekardadu untuk menyerah agar tidak terjadi pertumpahan darah. Patih Bajul Sengara untuk sementara merasa bangga atas kemenangannya itu. Tapi sesungguhnya dendam kesumat masih membara di dadanya.

Dua bulan kemudian dari rahim Dewi Sekardadu lahir bayi laki-laki yang elok rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senang dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan itu.

Bayi  itu  lain  daripada  yang  lain,  wajahnya  mengeluarkan  cahaya  terang.  Terlebih  Dewi
Sekardadu, dengan kelahiran bayinya itu hatinya yang sedih ditinggal suami sedikit terobati.

Seisi istana bergembira.

Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara. Dibiarkannya bayi itu mendapat limpahan kasih saying keluarga istana selama empat puluh hari. Sesudah itu dia menghasut Prabu Menak Sembuyu. Kebetulan pada saat itu wabah penyakit berjangkit lagi di Blambangan. Maka Patih Bajul Sengara mengkambing hitamkan Syekh Maulana Ishak sebagai penyebabnya.

“Semua bencana yang menimpa rakyat Blambangan ini disebabkan ulah Syekh Maulana Ishak. Dewa murka karena penduduk Blambangan banyak masuk agama Islam dan meninggalkan kepercayaan lama. Jika penduduk Blambangan ingin terhindar dari bencana kita harus kembali

kepada  agama  lama,  dan  melenyapkan  semua  bekas  peninggalan  Syekh  Maulana  Ishak,”
demikian kata sang Patih.

“Apa maksudmu dengan melenyapkan bekas peninggalan Syekh Maulana Ishak itu?”

tanya sang Prabu.

“Salah satu diantaranya ialah bayi keturunannya, Gusti Prabu !”

Maksudmu aku harus membunuh cucuku sendiri ?”

“Benar gusti Prabu ! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana di kemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di Blambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu !” kilah Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat.

Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dalam hatinya dia terlanjur menyukai kehadiran cucunya itu, namun sang Patih tiada bosan-bosannya menteror denga hasutan dan tuduhan keji akhirnya sang Prabu terpengaruh juga. Walau demikian tiada juga dia memerintahkan pembunuhan atas cucunya itu secara langsung. Bayi yang masih berusia empat puluh hari dimasukkan kedalam peti dan diperintahkan untuk dibuang kelaut.

“Biarlah Dewata sendiri yang menentukan nasibnya di Samodra.” Ujar sang Prabu kepada Dewi
Sekardadu.

Tentu saja Dewi Sekardadu menangis dengan suara menghayat hati. Ibu mana yang rela bayinya dibuang begitu saja tanpa alasan yang masuk di akal. Apalagi tempat pembuangan itu adalah lautan besar di selat Bali.

Dengan hati hancur ia ikut mengantarkan upacara Pelarungan atau pembuangan bayi yang tak berdosa itu. Dengan tatapan kosong ia memandang ke arah peti yang dibuang ke tengah lautan, peti  itu  makin  lama  makin  ke  tengah  pada  akhirnya  hilang  dari  pandangan  mata.  Meski demikian wanita muda itu tidak beranjak dari tempatnya. Suasana di tepi pantai itu sudah sunyi senyap, hanya debur ombak yang terdengar membentur batu karang. Matahari mulai condong ke langit barat. Para prajurit yang diperintahkan menunggu Dewi Sekardadu segera pulang ke istana, melaporkan prilaku sang putri yang masih duduk tepekur di tepi pantai.


Di saat para prajurit meninggalkannya itulah Dewi sekardadu beranjak dari tempatnya duduk. Dengan gontai dia melangkahkan kakinya. Bukan ke istana Blambangan. Melainkan mengembara tanpa tujuan yang pasti. Dan tak seorangpun dapat menemukannya lagi.

Belakangan baru diketahui bahwa sikap benci sang Patih kepada Syekh Maulana Ishak adalah dikarenakan ambisinya untuk dapat memperistri Dewi Sekardadu sendiri. Tapi ambisi itu memudar manakala kenyataan berbicara lain, Dewi Sekardadu yang telah lama diimpikannya sebagai batu loncatan untuk dapat mewarisi tahta Blambangan ternyata lebih dahulu di sunting oleh Syekh Maulana Ishak.

Meski demikian ambisi itu tak pernah padam. Setelah berhasil menyingkirkan Syekh Maulana Ishak dari bumi Blambangan, dia berharap akan dapat berjodoh dengan Dewi Sekardadu yang telah menjadi janda, demikian pikir sang Patih. Untuk itu dia harus menyingkirkan putra Syekh Maulana Ishak, supaya Dewi Sekardadu benar-benar dapat melupakan suaminya yang dahulu dan di belakang hari bayi itu tidak menjadi perintang cita-citanya.

Kini, setelah mendengar laporan para prajurit bahwa Dewi Sekardadu yang duduk terpekur di tepi pantai hingga sore hari ternyata sudah tidak ada di tempat. Patih itu kelabakan, dia perintahkan ratusan prajurit untuk mencari sang putrid, namun itu sia-sia belaka. Sang Putri seolah-olah lenyap di telan bumi.

Konon, Syekh Maulana Ishak sebelum meneruskan perjalanan ke negeri Pasai sempat mampir ke Ampeldenta di  Surabaya. Kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel dia berpesan, apabila bertemu dengan anak yang pernah dibuang ke laut oleh Prabu Menak Sembuyu itu supaya dinamakan Raden Paku dan hendaklah Raden Rahmat suka mendidiknya secara Islami.

Sudah barang tentu Sunan Ampel tidak berkeberatan menerima amanat itu. Jika kita amati di dalam Babat Tanah Jawa, sesudah pertemuan dengan Sunan Ampel, Syekh Maulana Ishak masih terus mengembara di sekitar Pulau Jawa terutama di bagian Tengah. Dan kemudian beliau mendapat sebutan Syekh Wali Lanang.

Kemudian berangkatlah Syekh Maulana Ishak ke negeri Pasai. Mendirikan perguruan Islam di sana dan terkenal sebutan Syekh Awwalul Islam.

Tetapi, berdasarkan bukti adanya makam Syekh Maulana Ishak di Gresik dekat makam Maulana
Malik Ibrahim, maka di duga pada usia lanjut atau pada jaman kejayaan Sunan Giri. Syekh

Maulana Ishak itu kembali ke Jawa, mendampingi Sunan Giri yang memerintah di Giri Kedaton dan kemudian wafat di Gresik lalu dimakamkan tak jauh dari komplek pemakaman Syekh Maulana Malik Ibrahim.

2. Joko Samodra

Pada suatu malam ada sebuah perahu dagang dari Gresik melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada ditengah-tengah Selat Bali tiba-tiba terjadi keanehan, perahu itu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundurpun tak bisa.

Nakhoda memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu, mungkinkah perahunya membentur batu karang. Setelah diperiksa ternyata perahu itu hanya menabrak sebuah peti berukir indah, seperti peti milik kaum bangsawan yang digunakan menyimpan barang berharga.

Nakhoda memerintahkan mengambil peti itu. Diatas perahu peti itu dibuka, semua orang terkejut karena didalamnya terdapat seorang bayi mungil yang bertubuh montok dan rupawan. Nakhoda merasa gembira dapat menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperikemanusiaan.

Nakhoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan pesatnya.

“Ini benar-benar kejadian gaib, kejadian diluar perhitungan manusia biasa. Pertama hanya karena peti perahu ini tak dapat bergerak, kemudian setelah peti ini kita buka perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik ternyata perahu itu melaju dengan pesatnya.

“Ini benar-benar kejadian gaib, kejadian diluar perhitungan manusia biasa. Pertama hanya karena petiperahu ini tak dapat bergerak, kemudian setelah peti ini kita buka perahu tak dapat melanjutkan perjalanan ke Pulau Bali. Baiklah kita kembali saja ke Gresik, kita laporkan kejadian aneh ini kepada majikan kita,” demikian kata Nakhoda kepada anak buahnya.

Perahu itupun melaju  cepat ke arah Gresik.  Tanpa ada halangan dan rintangan. Padahal berdasarkan perhitungan, berlayar ke arah barat saat itu sama dengan menentang gelombang dan badai.

Mereka tiba di pelabuhan Gresik dengan selamat. Tetapi Nyai Ageng Pinatih merasa cemas melihat kapal perahu dagang miliknya kembali lebih cepat dari biasanya. “Apa yang terjadi? Mengapa kalian pulang secepatnya ini ?”
Lebih-lebih setelah diperiksa barang dagangan masih utuh seperti semula. Nyai Ageng Pinatih mulai naik pitam.

Nakhoda perahu tak banyak bicara, dia perintahkan anak buahnya membawa peti berisi bayi ke hadapan Nyai Ageng Pinatih.

“Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu secepat ini. Kami tak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali,” kata sang Nakhoda.

“Hanya karena peti? Apa isinya? Harta karun?” hardik Nyai Ageng Pinatih.

“Inilah isinya, kata Nakhoda sembari membuka tutup peti itu. Sepasang mata Nyai Ageng Pinatih terbelalak heran melihat bayi montok, sehat dan rupawan menggerakgerakkan tangannya sembari menatap ke arahnya.

“Bayi ………. ? Bayi siapa ini ?” guman Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.

Begitu diangkat bayi itu tampak tersenyum. Hati Nyai Ageng Pinatih berbinar-binar, seketika itu juga dia merasa sangat suka pada si bayi. Lebih-lebih dia itu adalah seorang janda yang tidak dikaruniai seorang putrapun.

“Kami menemukannya di tengah samodra Selat Bali, jawab nakhoda kapal.

“Tengah samodra ?” ulang Nyai Ageng Pinatih.

“Benar Nyai Ageng.”

“Lalu apa rencana kalian atas bayi ini ?”

“Banyak di antara kami yang menyukai bayi itu dan mengambilnya sebagai anak. Tapi kami tahu betapa lama Nyai Ageng mendambahkan seorang putra, maka lebih tepat kiranya bila Nyai Ageng yang merawat dan membesarkan bayi itu.”

“Jelasnya kalian berikan bayi ini kepadaku ?” Nyai Ageng menegaskan.

“Benar Nyai Ageng.”

Nyai Ageng Pinatih merasa sangat berterima kasih kepada nakhoda dan anak buahnya. Memang sudah lama dia mengingingkan seorang anak. Sebagai ungkapan rasa senangnya.... Kepada nakhoda dan anak buahnya.

Selanjutnya bayi itu diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya raya yang disegani masyarakat Gresik. Karena bayi itu ditemukan di tengah samodra maka Nyai Ageng Pinati kemudian memberinya nama Joko Samodra.

Nyai Ageng Pinatih adalah seorang muslimah yang baik, walau Joko Samodra bukan anak kandungnya dia merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Terlebih Joko Samodra itu ternyata mempunyai sifat yang baik, kepada ibunya dia sangat berbakti selalu bersikap menyenangkan hati. Kepada orang yang lebih tua dia selalu menghormati dan menjunjung tinggi. Kepada teman-teman sebayanya dia tak pernah menyakiti atau berbuat usil. Pendek kata Joko Samodra benar-benar merupakan profil anak yang menjadi buah hati orang tua dan pantas dibanggakan setiap orang tua. Ketika berumur 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samodra untuk berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Surabaya.

Menurut beberapa sumber mula pertama Joko Samodra setiap hari pergi ke Surabaya dan sorenya kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja di pesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi dalam mempelajari agama Islam.

Dalam beberapa minggu saja Sunan Ampel telah dapat mengetahui bahwa Joko Samodra bukanlah anak sembarangan. Muridnya yang satu ini memiliki kecerdasan luar biasa. Semua pelajaran yang diberikan mampu dicerna dan dihafal dalam tempo yang tidak terlalu lama.

Pada suatu malam, seperti biasa Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu guna melaksanakan  shalat  tahajjud,  mendoákan  murid-muridnya  dan  mendoákan  ummat  agar selamat di dunia dan akhirat. Sebelum berwudlu Raden Rahmat menyempatkan diri melihat- lihat para santri yang tidur di asrama.

Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya. Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata, untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan Ampel memberi ikatan pada pada sarung murid itu.

Esok harinya, sesudah shalat subuh, Sunan Ampel memanggil murid-muridnya itu.

“Siapakah di antara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan ?” Tanya Sunan
Ampel.

“Saya Kanjeng Sunan ………. “acung Joko Samodra.

Melihat yang mengacungkan tangan Joko Samodra, Sunan Ampel makin yakin bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kebetulan pada saat itu Nyai Ageng Pinatih datang untuk menengok Joko Samodra, kesempatan ini digunakan Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal usul Joko Samodra. Nyai Ageng Pinatih menjawa sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samodra di temukan di tengah Selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di rumah Nyai Ageng Pinatih.
Sunan Ampel kemudian menyempatkan diri datang ke Gresik untuk melihat peti yang masih tersimpan  rapi  itu.  Berdasarkan  pengamatan  Sunan  Ampel  peti  itu  memang  berasal  dari

kalangan istana Blambangan, hal itu diketahui dari ciri-ciri ukiran dan tanda khusus pada peti itu. Yakinlah Sunan Ampel bahwa Joko Samodra adalah putra Syekh Maulana Ishak yang dibuang ke tengah samodra.

Teringat pada pesan Syekh Maulana Ishak sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan pada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu diganti dengan nama Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata Sunan Ampel, dia percaya penuh kepada Wali besar yang sangat dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu.

3. Raden Paku

Sewaktu mondok di pesantren Ampeldenta, Raden Paku sangat akrab bersahabat dengan putra Raden Rahmat yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Keduanya bagai saudara kandung saja, saling menyayangi dan saling mengingatkan.

Setelah berusia 16 tahun, kedua pemuda itu dianjurkan untuk menimba pengetahuan yang lebih tinggi di negeri Seberang sambil meluaskan pengalaman. “Di Negeri Pasai banyak orang pandai dari berbagai negeri. Disana juga ada ulama besar yang bergelar Syekh Awwallul Islam. Dialah ayah kandungmu yang nama aslinya adalah Syekh Maulana Ishak. Pergilah kesana tuntutlah ilmunya yang tinggi dan teladanilah kesabarannya dalam mengasuh para santri dan berjuang menyebarkan agama Islam. Hal itu akan berguna kelak bagi kehidupanmu yang akan datang.”

Pesan itu dilaksanakan oleh Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim. Dan begitu sampai di negeri Pasai keduanya disambut gembira, penuh rasa haru dan bahagia oleh Syekh Maulana Ishak ayah kandung Raden Paku yang tak pernah melihat anaknya sejak bayi.

Raden Paku menceritakan riwayat hidupnya sejak masih kecil ditemukan di tengah samodra dan kemudian diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih dan berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Sebaliknya Syekh Maulana Ishak kemudian menceritakan pengalamannya di saat berdakwah di Blambangan sehingga terpaksa harus meninggalkan istri yang sangat dicintainya.

Raden Paku menangis sesenggukan mendengar kisah itu. Bukan menangisi kemalangan dirinya yang telah disia-siakan kakeknya yaitu Prabu Menak Sembuyu tetapi memikirkan nasib ibunya yang tak diketahui lagi tempatnya berada. Apakah ibunya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Dalam hatinya telah bertekad untuk pada suatu ketika akan datang ke Blambangan menuntut balas atas kekejaman kakeknya itu. Namun Syekh Maulana Ishak segera meredahkan

gelora hati Raden Paku yang masih berusia muda itu. “janganlah kau diperbudak iblis sehingga berniat membalas dendam pada kakekmu, Ujar Syekh Maulana Ishak.” Memang boleh kita membalas perbuatan jahat seorang dengan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Tapi memberi maaf itu lebih baik. Jika engkau pemuda Islam yang baik yang tidak sama dengan pemuda lain dengan menunjukkan kepribadian kita yang baik, sudah otomatis kita berdakwah dengan perbuatan nyata.”

Karena nasehat ayahnya yang bijaksana itu Raden Paku mengurungkan niatnya untuk membalas dendam  pada  Prabu  Menak  Sembuyu.  Toh  raja  Blambangan  itu  masih  terhitung  kakeknya sendiri.

Di negeri Pasai ulama besar dari negeri asing yang menetap dan membuka pelajaran agana Islam kepada penduduk setempat. Hal ini tidak disia-siakan oleh Raden Paku dan Maulana Makdum Ibrahim. Kedua pemuda itu belajar agama dengan tekun, baik kepada Syekh Maulana Ishak sendiri maupun kepada guru-guru agama lainnya.

Ada yang beranggapan bahwa Raden Paku dikaruniai ilmu laduni yaitu ilmu yang langsung berasal dari Tuhan, sehingga kecerdasan otaknya seolah tiada bandingnya. Disamping belajar ilmu Ta uhid mereka juga mempelajari ilmu Tasawuf dari ulama Iran, Bagdad dan Gujarat yang banyak menetap di negeri Pasai.

Ilmu yang dipelajari itu berpengaruh dan menjiwai kehidupan Raden Paku dalam prilakunya sehari-hari sehingga kentara benar bila ia mempunyai ilmu tingkat tinggi, ilmu yang sebenarnya hanya pantas dimiliki ulama yang berusia lanjut dan berpengalaman. Guru-gurunya kemudian memberinya gelar Syekh Maulana A’inul Yaqin.

Setelah tiga tahun berada di Pasai, dan masa belajar itu sudah dianggap cukup oleh Syekh Maulana Ishak, kedua pemuda itu diperintahkan kembali ke Tanah Jawa. Oleh ayahnya, Raden Paku diberi sebuah bungkusan putih berisi tanah.

“Kelak, bila tiba masanya dirikanlah Pesantren di Gresik, carilah tanah yang sama betul dengan tanah dalam bungkusan ini, disitulah kau membangun Pesantren,” Demikian pesan ayahnya.

Kedua pemuda itu kembali ke Surabaya. Melaporkan segala pengalamannya kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel memerintah Makdum Ibrahim berdakwah di daerah Tuban. Sedang Raden Paku  diperintah  pulang  ke  Gresik  kembali  ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih. “Tiba masanya bagimu untuk berbakti kepada Nyai Ageng Pinatih.” Kata Sunan Ampel. “Walau dia bukan ibu kandungmu tapi dialah yang membesarkan dan merawatmu sejak kecil. Bantulah

dagangan ibumu sambil berdakwah. Orang-orang pendahulu kita juga melakukan da’wah sambil berdagang.”

Demikianlah, Raden Makdum Ibrahim berdakwah di Tuban dengan menggunakan gamelan untuk menarik masa maka akhirnya dia dikenal sebagai Sunan Bonang. Sesuai dengan nama gamelan yang sering di gunakan melantunkan lagu-lagu atau tembang keagamaan.

Sedang Raden Paku kembali ke Gresik untuk membantu ibu angkatnya dalam mengurus perdagangan antar pulau.

4. Membersihkan Diri

Pada usia 23 tahun, Raden Paku diperintah oleh ibunya untuk mengawal barang dagangan ke pulau  Banjar  atau  Kalimantan.  Tugas  ini  diterimanya  dengan senang  hati.  Nakhoda  kapal diserahkan kepada pelaut kawakan yaitu Abu Hurairah. Walau pucuk pimpinan berada di tangan Abu Hurairah tapi Nyai Ageng Pinatih memberi kuasa pula kepada Raden Paku untuk ikut memasarkan dagangan di Pulau Banjar.

Tiga buah kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Gresik dengan penuh muatan. Biasanya, sesudah dagangan itu terjual habis di pulau Banjar maka Abu Hurairah diperintah membawa barang dagangan dari Pulau Banjar yang sekiranya laku di Pulau Jawa, seperti rotan, damar, emas dan lain-lain. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh menjadi berlipat ganda. Tapi kali ini tidak,  sesudah  kapal merapat di pelabuhan Banjar, Raden Paku membagi-bagikan barang dagangan dari Gresik itu secara gratis kepada penduduk setempat.

Tentu saja hal ini membuat Abu Hurairah menjadi cemas. Dia segera memprotes tindakan Raden Paku, “Raden …… kita pasti akan mendapat murka Nyai Ageng Pinatih. Mengapa barang dagangan kita diberikan secara Cuma-Cuma ?”

“Jangan kuatir Paman, “Kata Raden Paku. “Tindakan saya ini sudah tepat.

Penduduk Banjar pada saat ini sedang dilanda musibah. Mereka dilanda kekeringan dan kurang pangan. Sedangkan ibu sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dari mereka. Sudahkah ibu memberikan hartanya dengan membayar zakat kepada mereka ?. Saya kira belum, nah sekaranglah saatnya ibu mengeluarkan zakat untuk membersihkan diri.”

“Itu diluar wewenang saya Raden ,” Kata Abu Hurairah. “Jika kita tidak memperoleh uang lalu dengan apa kita mengisi perahu supaya tidak oleng dihantam ombak dan badai ?”

Raden Paku terdiam beberapa saat. Dia sudah maklum bila dagangan habis biasanya Abu Hurairah  akan  mengisi  kapal  atau  perahu  dengan  barang  dagangan  dari Kalimantan. Tapi sekarang tak ada uang dengan apa dagangan Pulau Banjar akan dibeli. “Paman tak usah risau,” kata Raden Paku dengan tenangnya “Supaya kapal tidak oleng isilah karung-karung kita dengan batu dan pasir.”

Walaupun agak konyol tapi benar juga akal itu, demikian pikir Abu Hurairah. Kapal itupun diisi dengan karung-karung yang berisi pasir dan batu. Sekedar menjaga keseimbangan agar kapal itu tidak karam dihantam badai.

Memang benar, mereka dapat berlayar hingga di pantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati Abu Hurairah menjadi kebat kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk menghadap Nyai Ageng Pinatih. Dugaan Abu Hurairah memang tepat.

Nyai Ageng Pinatih terbakar amarahnya demi mendengar perbuatan Raden Paku yang dianggap tidak normal itu.

“Ibu jangan terburu marah-marah,” kata Raden Paku. “Lebih baik ibu lihat dulu apakah isi karung-karung dalam kapal itu ?”

“Apakah yang dilihat lagi, Abu Hurairah tak pernah berbohong kepadaku. Pasir dan batu apa susahnya mencari di Gresik ini. Aku tidak keberatan barang dagangan itu kau sedekahkan kepada penduduk Banjar yang menderita tapi pasir dan batu itu buat apa ?”

“Sebaiknya ibu lihat lebih dahulu !” pinta Raden Paku.

“Sudah, jangan banyak bicara, buang saja pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja !” Hardik Nyai Ageng pinatih.

Tapi ketika awak kapal membuka karung-karung itu, mereka terkejut. Karung-karung itu isinya berubah menjadi barang-barang dagangan yang biasa mereka bawa dari Banjar, seperti rotan, damar, kain dan emas serta intan. Bila ditaksir harganya jauh lebih besar ketimbang barang dagangan yang disedekahkan kepada penduduk Banjar. Sejak saat itu Nyai Ageng Pinatih tidak berani menganggap sembarangan pada anak angkatnya. Dia yakin kelak Raden Paku akan menjadi orang besar, seorang yang mempunyai kelebihan dibanding pemuda-pemuda biasa lainnya.

5. Perkawinan Raden Paku

Al-kisah, ada seorang bangsawan Majapahit bernama Ki Ageng Supa Bungkul. Ia mempunyai Sebuah pohon delima yang aneh di depan pekarangan rumahnya. Setiap kali ada orang hendak mengambil buah delima yang berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka, kalau tidak ditimpa penyakit berat tentulah orang tersebut meninggal dunia.

Suatu ketika Raden Paku tanpa disengaja lewat di depan pekarangan Ki Ageng Bungkul. Begitu dia berjalan di bawah pohon delima tiba-tiba buah pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku.

Ki Ageng Bungkul tiba-tiba muncul mencegat Raden Pakuh, dan ia berkata, “kau harus kawin dengan putriku, Dewi Wardah.”

Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Wardah. Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa itu disampaikan kepada Sunan Ampel.

“Tak usah bingung. Ki Ageng Bungkul itu seorang muslim yang baik, aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu sudah menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu.” Demikian kata Sunan Ampel.

“Tapi .......... bukankah saya hendak menikah dengan putri Kan jeng Sunan yaitu dengan Dewi
Murtasiah ?” Ujar Raden Paku.

“Tidak  mengapa?”  Kata  Sunan  Ampel.  “Sesudah  melangsungkan  akad  nikah  dengan  Dewi
Murtasiah selanjutnya kau akan melangsungkan perkawinan dengan Dewi Wardah.”



Itulah liku-liku perjalanan hidup Raden Paku.  Dalam sehari ia menikah dua kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkul seorang Bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di Surabaya. Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar pulau. Sambil berlayar itu pula beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan Nusantara.

Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Ia ingin berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok Pesantren. Iapun minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.

Nyai Ageng Pinatih yang kaya raya itu tidak keberatan. Andaikata hartanya yang banyak itu dimakan setiap hari dengan anak dan menantunya rasanya tiada akan habis, terlebih Juragan Abu Hurairah orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih menyatakan kesanggupannya untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan miliknya, maka wanta itu ikhlas melepaskan Raden Paku yang hendak mendirikan pesantren.

Mulailah Raden Paku bertafakkur di goa yang sunyi, 40 hari 40 malam beliau tidak keluar goa, hanya bermunajat kepada Allah. Tempat Raden Paku bertafakkur itu hingga sekarang masih ada, yaitu desa Kembangan dan Kebomas. Usai bertafakkur teringatlah Raden Paku pada pesan ayahnya sewaktu belajar di Negeri Pasai. Diapun berjalan berkeliling untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan tanah yang di bawa dari Negeri Pasai.

Melalui desa Margonoto, sampailah Raden Paku di daerah perbukitan yang hawanya sejuk, hatinya terasa damai, iapun mencocokan tanah yang dibawanya dengan tanah di tempat itu. Ternyata cocok sekali. Maka di desa Sidomukti itulah ia kemudian mendirikan pesantren. Karena tempat itu adalah dataran tinggi atau gunung maka dinamakanlah pesantren Giri. Giri dalam bahasa Sangsekerta artinya gunung. Atas dukungan istri-istri dan ibunya juga dukungan spiritual dari Sunan Ampel. Tidak begitu lama, hanya dalam waktu tiga tahun Pesantren Giri sudah terkenal ke seluruh Nusantara.

6. Peranan Sunan Giri Dalam Perjuangan Wali Sanga

Dimuka telah disebutkan bahwa hanya dalam tempo waktu tiga tahun Sunan Giri berhasil mengelola Pesantrennya hingga namanya terkenal ke seluruh Nusantara. Menurut Dr. H.J. De Graaf, sesudah pulang dari pengembaraannya atau berguru ke Negeri Pasai, ia memperkenalkan diri kepada dunia, kemudian berkedudukan di atas bukit di Gresik, dan ia menjadi orang pertama yang paling terkenal dari Sunan-sunan Giri yang ada. Di atas gunung tersebut seharusnya ada istana karena dikalangan rakyat dibicarakan adanya Giri Kedaton ( Kerajaan

Giri ) . Murid-murid Sunan Giri berdatangan dari segala penjuru, seperti Maluku, Madura, Lombok, Makasar, Hitu dan Ternate. Demikian menurut De Graaf.

Menurut Babat Tanah Jawa murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran hampir di seluruh penjuru benua besar, seperti Eropa ( Rum ), Arab, Mesir, Cina dan lain-lain.

Semua itu adalah pengembara kebesaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar yang sangat dihormati  orang  pada  jamannya.  Disamping  pesantrennya  yang  besar  ia  juga  membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan iman ummatnya. Untuk para santri yang datang dari jauh beliau juga membangun asrama yang luas.

Disekitar bukit tersebut sebenarnya dahulu jarang dihuni oleh penduduk dikarenakan sulitnya mendapatkan air. Tetapi dengan adanya Sunan Giri masalah air itu dapat diatasi. Cara Sunan Giri membuat sumur atau sumber air itu sangat aneh dan gaib, hanya beliau seorang yang mampu melakukannya.

7. Sebagai Pemimpin Kaum Putihan

Dalam menentukan hokum agama yang pada saat itu memang sedang menghadapi ujian adanya masalah-masalah ummat yang pelik, Sunan Giri sangat berhati-hati, beliau kuatir terjerumus pada jurang kemusyrikan. Itu sebabnya beliau sangat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang sahih.

Ibadah menurut beliau haruslah sesuai dengan ajaran Nabi, tidak boleh dicampuri dengan berbagai kepercayaan lama yang justru bertentangan dengan agama Islam. Karena mahirnya beliau di bidang ilmu fiqih maka beliau mendapat sebutan Sultan Abdul Fakih. Di bidang tauhid beliau juga tak kenal kompromi dengan adat istiadat lama dan kepercayaan lama. Kepercayaan Hindu-Budha atau animesme dan dinamisme harus dikikis habis. Adat istiadat lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus dilenyapkan supaya tidak menyesatkan ummat dibelakang hari.

Pelaksanaan syariat Islam di bidang agama ibadah haruslah sesuai dengan ajaran aslinya yang termasuk di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena sikapnya ini maka Sunan Giri dan pengikutnya disebut kaum Putihan atau Islam Putih. Islam Putihan ini artinya adalah dalam beragama mengikuti jalan lurus, putih bersih seperti ajaran aslinya. Pemimpin kaum putihan adalah Sunan Giri yang didukung oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajad.

Kalau ada Islam Putihan tentunya ada Islam Abangan, anak Islam Abangan ini adalah para pengikut Sunan Kalijaga yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria.

Tujuan Aliran Islam Abangan ini adalah agar Islam cepat tersiar keseluruh penduduk Tanah
Jawa. Agar semua rakyat dapat menerima agama Islam, karena itu mereka berpendapat :

Membiarkan dahulu adat istiadat yang sukar diubah, atau tidak merubah adat yang berat
1.   ditiadakan, sehingga tidak terjadi usaha kekerasan dalam menyebarkan Islam.
Bagian  adat  yang  tidak  sesuai  dengan  ajaran  Islam  tetapi  mudah  dihilangkan  maka
2.   ditiadakan.
Mengikuti  dari  belakang  terhadap  kelakuan  dan  adat  rakyat  tetapi  diusahakan  untuk
3.   mempengaruhi sedikit demi sedikit agar mereka menerima Islam yang benar.
Menghindarkan terjadinya konfrontasi secara langsung atau terjadinya kekerasan dalam
4.   menyiarkan agama Islam. Maksudnya ialah mengambil ikannya tanpa mengeruhkan airnya Tujuan utama kaum Abangan adalah merebut simpati rakyat sehingga rakyat mau diajak berkumpul, mendekat dan bersedia mendengarkan keterangan apa sih ajaran agama Islam itu  ?  Jadi  tidak  dibenarkan  menghalau  rakyat  dari  kalangan  ummat  Islam,  melainkan berusaha menyenangkan hati mereka supaya mau mendekat kepada para ulama atau para Wali. Untuk itu tidak ada salahnya penggunaan kesenian rakyat seperti gending dan wayang
5.   kulit sebagai media dakwah untuk mengumpulkan mereka.

Itulah pendapat kaum Abangan yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga. Perlu diketahui walaupun ada perbedaan dalam cara menyiarkan Islam, tapi pada waktu itu tidak sampai terjadi ketegangan kedua pihak masih sama-sama berfaham Ahlussunah waljamaah dan bermahZab Syafi’i. Kedua pihak sama-sama menyadari pentingnya pos mereka. Pihak Putihan menjaga kemurnian agama Islam agar tidak bercampur dengan faham yang berbau syirik. Sedangkan pihak Abangan adalah mengajak masyarakat atau rakyat secepatnya menjadi pemeluk agama Islam. Bila sudah menjadi pemeluk Islam tinggal menyempurnakan iman mereka saja.

8. Peresmian Masjid Demak

Dalam peresmian Masjid Demak, Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan pertunjukan wayang kulit yang pada waktu itu bentuknya masih wayang beber yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang. Usul Sunan Kalijaga ditolak oleh Sunan Giri, karena wayang yang bergambar manusia itu haram hukumnya dalam ajaran Islam, demikian menurut Sunan Giri.

Jika Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak itu dengan membuka pegelaran wayang kulit, kemudian diadakan dakwah dan rakyat berkumpul boleh masuk setelah mengucapkan syahadat, maka Sunan Giri mengusulkan agar Masjid Demak diresmikan pada saat

hari jum’at sembari melaksanakan shalat jamaah Jum’at. Sunan Kalijaga yang berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan Giri. Sebelumnya Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang kulit sehingga gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi. Lebih mirip karikatur seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.

Sunan Kalijaga membawa wayang kreasinya itu dihadapan sidang para Wali.

Karena tak bisa disebut sebagai gambar manusia maka akhirnya Sunan Giri menyetujui wayang kulit itu digunakan sebagai media dakwah. Perubahan bentuk wayang kulit itu adalah dikarenakan sanggahan Sunan Giri, karena itu, Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum  penting  itu.  Pemimpin  para  dewa  dalam  pewayangan  oleh  Sunan  Kalijaga dinamakan Sang Hyang Girinata, yang arti sebenarnya adalah Sunan Giri yang menata.

Maka perdebatan tentang peresmian Masjid Demak bisa diatasi.

Peresmian itu akan diawali dengan shalat Jum’at, kemudian diteruskan dengan pertunjukan wayang kulit yang dinamakan oleh Ki Dalang Sunan Kalijaga. Peranan Sunan Giri dalam perjuangan Wali Songo sebenarnya masih banyak, diantaranya akan kami turunkan dalam bab lain di buku ini.

9. Prabu Satmata Dan Giri Kedaton

Semakin hari pengaruh Sunan Giri semakin besar. Kekuatan spiritualnya juga semakin luas. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pesantren Giri kemudian berubah menjadi kerajaan Giri yang sering disebut Giri Kedaton. Dan Sunan Giri sebagai raja pertama bergelar Prabu Satmata.

Ketika Sunan Ampel wafat pada tahun 1478, maka Sunan Girilah yang diangkat sebagai sesepuh Wali Songo atau Mufti ( pemimpin agama se Tanah Jawa ). Sunan Ampel adalah Penasehat bagian  politik  Demak.  Jasa  beliau  sungguh  besar  bagi  perjuangan  Wali  Songo,  yaitu menyebarkan agama Islam tanpa kekerasan. Beliaulah yang paling tidak setuju atas beberapa usul agar Raden Patah segera menyerang Majapahit agar Demak dapat berdiri sebagai kerajaan Islam merdeka tanpa harus tunduk kepada Majapahit. Sunan Ampel dan Sunan Giri yang masih terhitung keluarga kerajaan Majapahit memang dianggap Prabu Brawijaya sebagai pembesar atau para Pangeran Majapahit yang berkuasa didaerah masing-masing. Sunan Ampel berkuasa di Surabaya dan Sunan Giri berkuasa di Giri Gresik. Dengan demikian Sunan Ampel adalah orang yang  paling  tahu  situasi  kerajaan  Majapahit.  Ketika  beberapa  wali  mengusulkan  untuk menyerbu Majapait, Sunan Ampel menyatakan ketidak setujuannya.

“Tanpa diserbupun Kerajaan Majapahit sudah keropos dari dalam. Lagi pula Prabu Brawijaya Kertabumi itu masih ayah kandung Raden Patah selaku Pangeran Demak Bintoro,” Kata Sunan Ampel.  “Apa  kata  orang  nanti  bila  seorang  anak  durhaka  menyerang  dan  merebut  tahta ayahnya sendiri ? Saya kira Kerajaan Majapahit akan sirna dengan sendirinya, beberapa adipati yang masih beragama Hindu sudah banyak yang ingin merebut kekuasaan. Kita tak usah ikut- ikutan merebut tahta Majapahit yang hanya mencemarkan keagungan agama yang kita anut.”

Ramalan Sunan Ampel memang benar. Tidak lama setelah beliau meninggal dunia. Adipati Keling atau Kediri bernama Girindrawardhana menyerbu kerajaan Majapahit. Ada yang menyebutkan bahwa Prabu Kertabumi atau Ayah Raden Patah itu tewas dalam serangan mendadak yang dilakukan Prabu Girindrawardhana dari Kediri. Setelah Sunan Ampel wafat, penasehat bagian politik Demak digantikan oleh Sunan Kalijaga. Sedang Sunan Giri dianggap sesepuh yang sering dimintai pertimbangan di bidang politik kenegaraan.

Para Wali mengadakan sidang sesudah jatuhnya Majapahit oleh serangan menyerang Prabu Girindrawardhana yang berkuasa di Majapahit. Sebab Raden Patah adalah pewaris utama kerajaan Majapahit. Dengan demikian ketika Demak menyerbu Majapahit bukanlah menyerang Prabu Kertabumi yang menjadi ayah Raden Patah, melainkan justru merebut tahta Majapahit dari tangan musuh Prabu Kertabumi. Pada waktu Prabu Girindrawardhana ini berkuasa di Majapahit pernah berusaha menggempur Giri Kedaton, karena Sunan Giri dianggap salah satu kerabat Prabu Kertabumi. Tetapi serangan itu dapat dipatahkan oleh Sunan Giri.

Kebesaran nama Sunan Giri yang bergelar Prabu Satmata itu juga terdengar oleh seorang Begawan dari Lereng Lawu. Namanya Begawan Mintasemeru. Brahmana ini sengaja datang ke Giri Kedaton untuk menentang Sunan Giri adu kesaktian. Diantara adu kesaktian beragam jenisnya itu, yang paling terkenal adalah adu tebakan. Begawan Mintasemeru menciptakan sepasang angsa jantan dan betina, kemudian dikubur hidup-hidup diatas gunung Patukangan. Sesudah itu dia kembali menemui Sunan Giri.

“Apakah yang baru saya tanam di puncak gunung Patukangan itu, demikian tanya Begawan
Mintasemeru menguji Sunan Giri.

“Yang Tuan tanam adalah sepasang naga jantan dan betina!” jawab Sunan Giri dengan tenangnya.

Begawan itu tertawa terbahak-bahak sembari memperolok-olok kebodohan Sunan Giri.

“Jika Tuan Begawan tidak percaya boleh anda lihat lagi, hewan apakah yang Tuan tanam di puncak gunung itu,” kata Sunan Giri.

Sang Begawan menurut. Dia bongkar kuburan sepasang angsa ciptaannya. Ternyata angsa itu lenyap sebagai gantinya adalah sepasang naga yang meliuk-liuk hendak menerkamnya. Tentu saja sang Begawan merasa teramat malu. Selanjutnya dikatakan bahwa Begawan Mintasemeru masih mendemonstrasikan beberapa kesaktiannya yang menakjubkan, tapi semuanya dapat dikalahkan oleh Sunan Giri. Pada akhirnya Begawan Mintasemeru menyerah kalah, tunduk dan masuk Islam, kemudian menyebarkan agama Islam di Gunung Lawu. Legenda tentang adu tebak kewaskitaan itu diabadikan dalam monumen patung sepasang naga di tangga masuk ke makam Sunan Giri yaitu tangga yang sebelah selatan. Disana ada sepasang naga dari ukiran batu yang mirip dengan angsa.


10. Jasa-Jasa Sunan Giri

Jasanya yang terbesar tentu saja perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa bahkan ke Nusantara, baik dilakukannya sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun dilakukannya sendiri sewaktu masih muda sambil berdagang ataupun melalui murid- muridnya yang ditugaskan keluar pulau.

Beliau pernah menjadi hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar, seorang Wali yang dianggap murtad karena menyebarkan faham Pantheisme dan meremehkan syariat Islam yang disebarkan para Wali lainnya. Dengan demikian Sunan Giri ikut menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham Ahlussunnah wal jama’ah. Keteguhannya dalam menyiarkan agama Islam secara murni dan konsekwen berdampak positif bagi generasi Islam berikutnya.

Islam yang disiarkannya adalah Islam sesuai ajaran Nabi, tanpa di campuri kepercayaan atau adapt istiadat lama. Di bidang kesenian beliau juga berjasa besar, karena beliaulah yang pertama kali menciptakan tembang dan tembang dolanan anak-anak yang bernafas Islam antara lain : Jamuran, Cublak-ublak Suweng, Jithungan dan Delikan. Diantara permainan anak-anak yang dicintanya ialah sebagai berikut :

Diantara anak-anak yang bermain ada yang menjadi pemburu, dan yang lainnya menjadi obyek buruan. Mereka akan selamat dari kejaran pemburu bila telah berpegang pada tonggak atau batang pohon yang telah ditentukan lebih dulu. Inilah permainan yang disebut Jelungan. Arti permainan tersebut adalah seseorang yang sudah berpegang teguh kepada agama Islam Tauhid maka ia akan selamat dari ajakan setan atau iblis yang dilambangkan sebagai pemburu.

Sembari melakukan permainan yang disebut jelungan itu biasanya anak-anak akan menyanyikan lagu Padhang Bulan :

“Padhang-padhang bulan, ayo gage dha dolanan, dolanane na ing latar,
ngalap padhang gilar-gilar, nundhung begog hangetikar.”

Artinya adalah sebagai berikut :

“Malam terang bulan, marilah lekas bermain, bermain di halaman, mengambil di halaman, mengambil manfaat benderangnya rembulan, mengusir gelap yang lari terbirit-birit.”

Maksud lagu dolanan tersebut ialah : Agama Islam telah datang, maka marilah kita segera menuntut penghidupan, di muka bumi ini, untuk mengambil manfaat dari agama Islam, agar hilang lenyaplah kebodohan dan kesesatan.

Sunan  Giri  jauh-jauh  sudah  memperingatkan  umat  agar  berhati-hati  terhadap  perubahan jaman. Beliau pernah meramalkan bahwa pada masa yang akan datang akan banyak orang yang mengaku mendapat wahyu Tuhan tetapi sebetulnya mereka sangat jauh dari agama. Bahkan sama sekali tak mengerti ilmu agama. Mereka dipuja-puja

ummat padahal menjadi benalu atau pemeras ummat. Mereka tidak lagi menghiraukan syariat agama, bahkan menginjak-nginjak syariat tersebut dengan mendakwakan dirinya sudah tidak perlu melakukan shalat, tidak perlu berpuasa dan berzakat karena dirinya sudah baik, sudah sempurna. Itulah orang yang tergelincir ilmunya. Mereka sesat dan menyesatkan ummat pengikutnya.

Dimasa yang akan datang juga akan muncul guru-guru ilmu yang merasa ilmunya sudah tinggi, sudah sempurna, mereka mengaku mendapat wangsit dari Tuhan dan karenanya bebas berbuat apa saja. Guru semacam ini justru dipuja-puja para pengikutnya sampai-sampai masyarakat rela mengorbankan harta, harga diri dan jiwanya demi kesenangan sang guru. Dalam kenyataannya ramalan Sunan Giri itu memang sudah sering terbukti. Sudah berapa kalikah masyarakat dibodohi guru-guru semacam itu, mulai dari dukun cabul hingga orang-orang yang mengaku dirinya Wali ternyata adalah bajingan.

11. Para Pengganti Sunan Giri

Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1442, memerintahkan kerajaan Giri selama kurang lebih dua puluh tahun. Mulai tahun 1487 hingga tahun 1506. Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata. Pengaruh Sunan Giri sangat besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sebagai bukti adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah memerlukan pengesahan dari Sunan Giri.

Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama hampir 200 tahun. Sesudah Sunan Giri yang pertama meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya yaitu :

1.  Sunan Dalem
2.  Sunan Sedomargi
3.  Sunan Giri Prapen
4.  Sunan Kawis Guwa
5.   Panembahan Ageng Giri
6.  Panembahan Mas Witana Sideng Rana
7.  Pangeran Singonegoro ( bukan keturunan Sunan Giri )
8.   Pangeran Singosari

Pangeran Singosari ini berjuang gigih mempertahankan diri dari sebuah Sunan Amangkurat II yang  dibantu  oleh  VOC  dan  Kapten  Jonker.  Serbuan  ke  Giri  itu  adalah  dalam  rangka penumpasan pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo seorang murid dari Pesantren Giri yang pernah menyungkir balikkan Surakarta dan bahkan pernah menjadi Raja di Kediri.

Pemberontakan Trunojoyo itu dilakukan karena tindakan sewenang-wenang dari Sunan Amangkurat I yang pernah menumpas dan membunuh 6000 ulama’ Ahlusunnah yang dituduh menyebarkan isu ketidakpuasan rakyat terhadap raja. Padahal itu hanya fitnah dari orang- orang yang menjadi kaki tangan Sunan Amangkurat I, mereka adalah para pengikut faham Manunggaling Kawula Gusti, faham yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar yang ditentang Wali Sanga. Sesudah Pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedaton. Yang tinggal hanyalah makam-makam dan peninggalan Sunan Giri.

Yang dirawat oleh juru kunci makam Sunan Giri.

*****
sumber:www.dimhad.6te.net

Sunan Bonang

Sunan Bonang

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario Tejo.

Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.

Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin. Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih berat dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon Wali yang besar, maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin.

Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang, yaitu Negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah  kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir, Arab dan Persi atau Iran. Sesudah belajar di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.

Sedang Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di

Tuban. Dalam berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih- lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya.

Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim.

Begitulah  siasat  Raden  Makdum  Ibrahim  yang  dijalankan  penuh  kesabaran. Setelah  rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.

Tembang-tembang  yang  diajarkan  Raden  Makdum  Ibrahim  adalah  tembang  yang  berisikan ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.

Diantara tembang yang terkenal ialah :

“Tamba ati iku sak warnane,
Maca Qur’an angen-angen sak maknane, Kaping pindho shalat sunah lakonona,
Kaping telu wong kang saleh kancanana,
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe, Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe,
Sopo wongé bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyemba dani.


Artinya :


Obat sakit jiwa (hati) itu ada lima jenisnya. Pertama membaca Al-Qur’an dengan artinya,
Kedua mengerjakan shalat malam (sunnah Tahajjud), Ketiga sering bersahabat dengan orang saleh (berilmu),
Keempat harus sering berprihatin (berpuasa),
Kelima sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,
Siapa saja mampu mengerjakannya, Insya Allah Tuhan Allah mengabulkan.

Hingga sekarang lagi ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik di pedesaan maupun dipesantren. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang. Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di PerpustakaanUniversitas Leiden, Belanda. (Nederland)


Suluk  berasal  dari  bahasa  Arab  “Salakattariiqa” artinya menempuh  jalan (tasawwuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut Ilmu Suluk. Ajaran yang biasa disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.

Dibawah ini adalah Suluk karya Sunan Bonang yang disebut Suluk Wragul.


Suluk Wragul Dhandhhanggula

Wragul 1

Berang-berang, jika diteliti ini raga
Belum ketemu hakikatnya Ada atau tidakkah ia Sebenarnya aku ini siapa
Impian beraneka ragam
Kalau dipikirkan
Akhirnya menyedihkan
Yang mustahil banyak sekali Segala wujud di semesta ini Tak putus-putus sama sekali

Wragul 2

Maka dengarlah perlambang ini Ada kera hitam sedang berdiri Di tepi sungai
Tertawa keras tak kepalang
Kepada berang-berang yang mencari makan
Siang dan malam
Terus tanpa kesudahan
Tak ingat bahwa ia diciptakanTuhan
Yang diingat hanya makanan
Tanpa memperdulikan

Bahaya mengncam

Wragul 3

Dilalapnya apa saja ia dapatkan
Tidaklah ia memperhatikan
Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan
Mustahil ia tak sanggup memberi makan
Dari kehidupan hingga kematian
Apapun saja yang dikodratkan
Telah disesuaikan
Ulat dalam batu pun diberi santunan
Maka jangan hanya suntuk mencari makan

Wragul 4

Akibatnya terlupa bahwa ia ciptaan Allah
Berang-berang berkata dengan ramah Duh kera hitam, sungguh engkau kejam Kau paksa aku mengikutimu
Yang kata orang tanpa dipikirkan
Ya, aku terpaksa
Mencari makan, tapi tidaklah
Dengan susah payah
Sekedar semampu diriku ini
Aku tak mencari-cari

Wragul 5

Hak orang lain tak kurebut
Tak kuperhatikan bencana dan kutuk
Tak kulihat yang hidup
Demikian pulalah halnya burung elang
Mengikuti tenggiling untuk cari makan
Susah untuk memberi peringatan
Jika engkau merasa
Sebagai makhluk Tuhan adanya
Janganlah hati mendua
Tak usah campuri urusan orang lain
Karena semua punya kadar masing-masing

Wragul 6

Sudah diberi hak hidup sendiri-sendiri Seperti juga berbagai tetumbuhan ini Atau yang memakan dedaunan Mengikuti takdir Tuhan
Siapa akan mengikuti kata-katamu Siapa menuruti ajakanmu Sedangkan di hutan tempatmu Sang kera hitam menjawab Tidaklah akan kuubah
Makananmu, hanya ingatlah
Kepada yang memberi makan kepadamu

Wragul 7

Perbuatlah amal kebajikan Terpaksa harus kuberitahukan Hal-hal yang berfaedah saja
Sekedar menunjukkan yang benar adanya
Jawab Berang-berang
Tahulah aku
Maksud omonganmu
Kau inginkan
Agar kuberi kau makan
Tapi aku tak akan tunduk kepadamu

Wragul 8

Ibarat sudah tahu kebohongannya
Mulut jujur hati berdusta
Karena memaksa harus berbuat begini Menghormat kepada yang belum mengerti Agar dipercaya di dunia ini
Berapa kekuatannya
Tak tahu bahwa
Dengan bertapa sesungguhnya bersembunyi
Ingin kulihat mana pendeta yang benar-benar sakti
Kalau berhasil melebihi

Wragul 9

Kelihatannya luhur dan mulia Serba benar pembicaraannya Tuntas luar dalamnya
Bagus penampilannya
Kena kotoran sedikitpun tak bersedia Seperti burung elang akibatnya Terbang tinggi
Lupa melihat kanan kiri Begitu musuh disiasati Selamat sampai akhir hari

Wragul 10

Apabila ibarat ikan
Ikan gegenjong yang lemah badannya
Namun tajam tajinya
Hai kera hitam
Mana kata-katamu yang benar
Yang diharamkan ditolaknya Itu kalau sedikit jumlahnya Dan walaupun haram
Tapi kalau ada sedikit manisnya ditutupi
Dengan amat tersembunyi

Wragul 11

Jelas itu dicampur aduk
Ada yang diucapkan dengan pura-pura
Yang terlihat tindakannya
Pujangga maupun pendeta Sama-sama kurang budinya Aku tahu semuanya
Sama-sama meminta-minta
Hanya satu dua yang mengamalkan
Meminta tanpa dibantah
Walaupun tidak sungguhan

Wragul 12

Kikir kalau dimintai
Lagaknya seperti pendeta sakti
Usaha seakan tak henti
Dalam hidup ini hendaklah mengerti
Upaya orang lain
Dalam hidup ini seyogianya
Tak demikian tindakannya
Di mana ada niat yang tak semestinya Kata ahli kitab tak mau makan riba Sebab ia pendeta

Wragul 13

Orang besar orang kecil berebut bersaing Berupaya menggunakan akal masing-masing Yang namanya raga manusia
Siap semuanya
Untuk beramal senantiasa
Sedangkan apa kelebihan pendeta Sibuk mengolah ilmu pengetahuan Rahasianya mencari pekerjaan Berkah yang melimpah diharapkan Jaksa pun demikian

Wragul 14

Demikianlah yang tersembunyi pada para penulis
Mencari nafkah dengan menipu mengemis
Supaya ada kaulnya
Demikian para dukun adanya
Menjual mantra
Juga para guru yang terhormat
Mengajarkan ilmu luhur
Sama saja yang diharapkan Yaitu pengabdian murid Seperti burung kuntul

Wragul 15

Bertapa ada tujuannya
Agar memperoleh ikan di rawa

Agar semua itu kena olehnya Adapun yang bertapa di gunung Tujuannya pun
Untuk memperoleh Negara Oleh masyarakat dipercaya Begitu yang namanya pendeta Terus menerus bertukar pikiran
Berbuat kepercayaan dalam pemerintahan

Wragul 16

Pendapat yang benar ditentang Mencari saksi makin kesulitan Diuji dengan kepercayaannya Tak tahu bahwa terlalu asyik ia Membicarakan keburukan orang
Sementara pada dirinya sendiri tak kelihatan
Padahal kejelekannya sebesar gunung
Lagi pula ia tertarik pada rupa
Serta keanekaragaman suara yang masuk telinganya
Dari awal hingga akhir diterimanya

Wragul 17

Karena banyak orang membingungkan Tersandunglah ia di tempat yang rata Sembuh, tapi mati akhirnya
Yang samar dikira nyata
Yang bukan-bukan dikira mengalir
Yang duduk dikira air
Yang tidak terlihat
Senantiasa melihat cela orang lain
Sedang aku, cari makan tak sembunyi-sembunyi
Sang kera bicara gusar

Wragul 18

Ya, kamu jadinya
Mencela tingkah laku pendeta
Kalau begitu
Kamu pantas diburu

Hidupmu bagiku gambling Merintangi pekerjaan Kemudian sang berang-berang Berucap : Apa maumu !
Seraya merunduk sambil menerjang
Tapi telah meloncat si kera hitam

Wragul 19

Pada dahan kayu sambil bersiaga Sehingga mengagetkan kera-kera lainnya Semua pun angkat bicara
Dengan bahasa lambang mereka
Marah mereka
Siapa saja yang mencela pendeta
Boleh kita mengejarnya
Sampai mati ia
Semua kera mengepung di pinggir sungai itu
Tapi berang-berang sudah tahu

Wragul 20

Ketika sudah berkumpul semua kera hitam Berang-berang masuk ke dalam air pelan-pelan Karena kera sebanyak itu tidaklah terlawan Kemudian si berang-berang
Sambil makan ikan, memberi peringatan: Kera hitam, pulanglah kau
Bersama teman-temanmu
Sebab siapa tahu si empunya datang Yang di sungai ini ia punya larangan Siapa tahu firasat ia dapatkan ……….

Wragul 21

Sanggupkah kau lindungi teman-temanmu ? Maka semua kera hitampun bubar berlalu Agaknya mereka malu
Dan sang berang-berang keluar dari air
Mengamati kiri kanan dengan rasa khawatir
Kalau-kalau masih ada kera yang belum menyingkir

Sang berang-berang berkata dalam hati
Berangan-angan ia
Kera hitam merasa suci dirinya
Mencela orang yang sedang mencari mangsa

Wragul 22

Memang perbuatan yang cemar Adalah perbuatan melanggar Hanya saja tak terlihat
Sungguh, cari saja yang mempunyai Kebahagiaa, berlakulah laku sejati Meskipun seorang pendeta
Seulung apapun ia
Jika menulis, lupa beribadah Dirinya sendiri tak tampak olehnya Karena orang lain saja yang dilihatnya

Wragul 23

Jadi, tingkah laku orang peroranglah Yang merupakan makanan kesukaannya Kelihatan bijak perbuatannya
Namanya pujangga
Yang terkandung di hati yang ditatapnya
Tapi setelah keluar darinya Terlihat ia ingin menjiplaknya Demikian ibarat seekor burung
Bertengger di pohon beringin yang terbalik

Wragul 24

Sementara sang berang-berang Bersoal jawab dengan kera hitam Turunlah burung tuhu Menanyakan kesejatian
Mungkin selama perbincangan itu Yang demikian yang diinginkan Kepada kalimat tauhid amat senang Sehingga dipertuhankan
Tak ingat yang sungguh-sungguh Tuhan



Wragul 25

Lahir dan batin, dulu dan kemudian
Baik buruk, suka dan duka
Sudah nasib manusia, tiada bedanya
Takdir Allah yang Maha Agung
Siang malam sembah puji senantiasa
Jika rahmat tak datang juga
Jika belum mencapainya
Masih ragu adanya
Berterus teranglah dalam memperolehnya
Demikian burung tuhu berkata

Wragul 26

Sudah sebulan aku berdampingan
Namun dengan gagak belum tercapai kesepakatan
Sebab semua
Yang ia makan adalah kotoran
Jadi selalu kuhindari Tak akan aku ikuti Yang najis
Sungguh selama hidupku
Yang halal saja makananku
Yang diajak bicara menjawab begitu

Wragul 27

Tahu semua pengetahuan
Namun tak mengerti sastra agama
Dari mana asalnya
Yang meskipun seolah telah merasuk dihati
Tak mungkin ditolak di dunia ini
Burung tuhu berujar : Walau manis tutur katanya
Sebenarnya takhyul yang dibeberkan
Sang berang berkata : Pernah kudengar
Bahwa dalang tak pernah ditanya

Wragul 28

Pemburu tak henti berkelana
Ibarat burung bangau bertapa di rawa
Tiada lain niatnya
Kecuali mencari ikan di air
Dimakannya siang malam Seperti bangau botak Seperti kambing prucul
Maka orang yang menjalani laku
Jangan cepat melangkah dulu
Bertanyalah kepada yang tahu

Wragul 29

Haruslah lahir batin kalau memuji Yang diucapkan musti dimengerti Yang dilihat hendaknya dipahami Juga segala yang didengar
Betapa sukar orang memuji Maka sebaiknya carilah guru Yakni orang yang lebih tahu Yakni ahli ibadah
Dan memujilah hingga merasuki hati
Begitulah orang melakukan sembah puji

Wragul 30

Kalau tak tahu apa yang disembah
Hilanglah apa yang disembah
Karena sesungguhnya tak ada tirai itu
Tataplah gunung
Dan bunga dalam kesepian
Ikan tanpa mata Wahyu sejati Pandanglah Arjuna
Kalau bertapa tak tergoda
Oleh apa saja

Wragul 31

Ada tiga macam pepuji
Pertama melihat yang disembah
Kedua melihat rupanya Ketiga tak melihat Kepada sesuatu, namun
Menghadap yang disembah
Ibarat mencari
Dalang topeng yang sedang melakukan pertunjukan
Tak beda segala yang dimiliki
Berpadu satu ragawi ruhani

Wragul 32

Kalau tak begitu kafir jadinya
Yang namanya gajah, gerangan mana ia
Sejauh-jauh usiaku
Belum mengerti hal itu
Ibarat menyatukan perjalanan gajah
Dengan petualangan burung garuda
Ibarat menyatukan punggung dengan dada
Atau wayang dengan kelirnya
Tapi sesungguhnya cermin satu adanya

Wragul 33

Itu jelas sama
Yang dicari sedang tak ada
Tapi burung tuhu sedang memahaminya
Ibarat malam yang dibakar
Tak ada yang dipikirkan Ajaran dari berang-berang Biasanya sudah diajarkan
Jiwa yang hidup dan yang mati itu satu
Ingat bahwa engkau dikuasai Tuhanmu

Wragul 34

Seperti halnya tinta
Masih menyatu dengan tempatnya

Jangan menghindar meski mati bayarannya
Kalau hidup, hiduplah seperlunya
Selalu perhatikan guru
Jangan seperti orang bermimpi
Atau seperti burung yang disuruh berbicara
Mengikuti kata-kata
Dijadikan panutan pikirannya
Berang-berang bersiap-siap menyingkir
Burung tuhu terbang ke dahan

Wragul 35

Ketika kemudian matahari terbenam Terdengar suara pertunjukan wayang Tampaknya di istana
Tergetar tabirnya
Di depan kelir berada semua wayangnya
Burung tuhu tampak
Ki dalang terlihat
Yang terlihat gawang-gawangnya
Wayangnya tiada, hanya dalangnya
Padahal tabir penglihatan tidaklah ada

Wragul 36

Dalang dapat bertukar rupa Banyak orang jatuh cinta Menyaksikan tingkah wayangnya Terlihat segala tingkah lakunya Semua saling jatuh cinta
Betapa mendalam keinginan
Menatap sang dalang Namun dicari tak ketemu Meskipun dengan susah dan rindu

Wragul 37

Lebih-lebih jika kurenungkan ini
Dengan teliti
Betul-betul ingin bekerja
Terlalu penuh perhitungan akhirnya

Atas kekayaan orang-orang kaya
Maka kalau tak paham Jangan ikut-ikutan Sampai kapan demikian
Sesungguhnya engkau disuruh mencari kembali
Raga yang tersembunyi

Dikisahkan beliau pernah menaklukkan seorang pemimpin perampok dan anak buahnya hanya mempergunakan tambang dan gending. Dharma dan irama Mocopot.

Begitu  gending  ditabuh  Kebondanu  dan  anak  buahnya  tidak  mampu  bergerak,  seluruh persendian mereka seperti dilolosi dari tempatnya. Sehingga gagallah mereka melaksanakan niat jahatnya.

“Ampun .......... hentikanlah bunyi gamelan itu, kami tidak kuat !” Demikian rintih Kebondanu dan anak buahnya.

“Gending yang kami bunyikan sebenarnya tidak berpengaruh buruk terhadap kalian jika saja hati kalian tidak buruk dan jahat.”

“Ya, kami menyerah, kami tobat ! Kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi, tapi
.......... “ Kebondanu ragu meneruskan ucapannya.

“Kenapa Kebondanu, teruskan ucapanmu !” ujar Sunan Bonang.

“Mungkinkah Tuhan mengampuni dosa-dosa kami yang sudah tak terhitung lagi banyaknya,” kata Kebondanu dengan ragu. “Kami sudah sering merampok, membunuh dan melakukan tindak kejahatan lainnya.”

“Pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja,” kata Sunan Bonang. “Allah adalah Tuhan Yang
Maha Pengampun dan Penerima tobat.”

“Walau dosa kami setinggi gunung ?” Tanya Kebondanu.



“Ya, walau dosamu setinggi gunung dan sebanyak pasir dilaut.”

Akhirnya Kebondanu benar-benar bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang yang setia. Demikian pula anak buahnya. Pada suatu ketika juga ada seorang Brahmana sakti dari India yang berlayar ke  Tuban. Tujuannya hendak mengadu kesaktian dan berdebat tentang masalah keagamaan dengan Sunan Bonang. Namun ketika ia berlayar menuju Tuban, perahunya terbalik dihantam badai. Walaupun ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar  laut.  Di  tepi  pantai  mereka melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Mereka menghentikan lelaki itu dan menyapanya. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Saya datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan

Bonang.” kata sang Brahmana.

Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang ?” tanya lelaki itu.

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan, kata sang Brahmana.” Tapi sayang kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut.”

Tanpa banyak bicara lelaki itu mencabut tongkatnya yang menancap di pasir, mendadak tersemburlah air dari lubang tongkat itu, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut ?” Tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini ?” tanya sang Brahmana.


“Tuan berada di pantai Tuban !” jawab lelaki itu. Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat menduga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.

Siapa lagi orang sakti berilmu tinggi yang berada di kota Tuban selain Sunan Bonang. Sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan, malah kemudian ia berguru kepada Sunan Bonang dan menjadi pengikut Sunan Bonang yang setia.

Ada lagi legenda aneh tentang Sunan Bonang.

Sewaktu beliau wafat, jenasahnya hendak di bawa ke Surabaya untuk dimakamkan di samping Sunan Ampel yaitu ayahandanya. Tetapi kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami’ Tuban.

*****

sumber:www.dimhad.6te.net